// // 12 comments

Saatnya puisi yang berbicara

Dari dulu sampe sekarang, gue emang paling suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan membaca. Entah itu baca buku, baca koran, ataupun sekedar stalking timeline gebetan dan mantan. Oke, yang terakhir itu bohong. Membaca emang sudah hobi gue sejak kecil, dan beberapa waktu terakhir ini gue lagi suka-sukanya dengan kegiatan membaca juga. Baca puisi...

Yap, baca puisi itu rasanya gak jauh beda kok dengan baca novel ataupun baca buku yang lainnya, hanya saja kalo puisi itu bacanya di hadapan banyak orang. Sedangkan baca novel itu bebas, bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun sesuai keinginan dan selera masing-masing.

Beberapa waktu yang lalu salah satu dari temen gue ngasih tau, kalo sekarang di Jambi (kota gue) sudah ada yang namanya malam puisi (@MalamPuisiJambi). Tanpa pikir panjang, gue bersedia untuk bergabung dengan malam puisi, bersiap untuk mendengarkan puisi-puisi yang mereka lantunkan dan tentunya gue juga ikut membacakan puisi, tapi di akhir acara..
Kesan pertama yang gue rasain tentang orang-orang yang suka membaca puisi itu orang-orangnya yang serius, bersikap romantis dan lebih berbicara seperlunya aja.
Sedangkan gue, kalo ngomong aja gak bisa serius, gak bisa ngomong romantis dan lebih banyak berbicara yang gak penting alias basa-basinya yang terlalu basi. Di sinilah tantangan gue, gimana caranya gue untuk bisa memasuki dunia sastra (malam puisi) ini tanpa melepas style yang gue punya. Karena sebelumnya gue juga bergelut dengan dunia komedi, dan berhasil gak pernah lucu.

Ternyata prasangka buruk gue selama ini salah semuanya, mereka yang awalnya gue pikir orang yang serius ternyata mereka sama sekali tidak. Karena mereka juga masih tetap bisa bercanda, ketawa bareng seperti yang lainnya dan yang paling gue salutkan dari mereka adalah mereka kompak sekali.

Gak terasa, hari menuju pesta malam puisi #LovePoetry waktu itu semakin mendekat. Sebagai pemula dalam kegiatan ini, gue sudah bersiap semampunya aja. Menuliskan puisi dengan style gue sendiri, tentunya dengan artikulasi kata yang sulit dimengerti orang lain. Beeuuhh....

Suasana di lokasi malam itu rame banget, riuh tepuk tangan dari penonton pelan-pelan meneteskan keringat dingin dibalik kemeja yang gue gunakan malam itu. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya nama gue pun dipanggil untuk membacakan puisi yang sudah gue persiapkan beberapa hari yang lalu. Judulnya “Bait hujan”, puisi ini menceritakan tentang musim hujan yang menyebabkan banyak terjadinya cerita di dalam hidup gue.

Saat baca puisi, rasa grogi itu pasti tetap ada. Tapi bukan berarti dengan rasa grogi itu membuat gue menyerah begitu saja, karena masih banyak teman-teman yang lain yang saling mendukung. Baik itu dengan teriakan, tepuk tangan maupun kibarin bendera Slank... Oke gue bercanda.

***
Di bulan kedua dan setelah musim hujan berlalu, terbitlah musim kemarau yang mengakibatkan kebakaran hutan dan kabut asap di daerah Sumatera Bagian Tengah. Diantaranya ada Riau, Kep. Riau, Jambi dan beberapa bagian daerah di sekelilingnya. Tanpa menunggu lama, akhirnya @MalamPuisiJambi menggelar kembali pesta puisinya, yang kali ini bertemakan Redakan Dahaga Bumi untuk mengenang musibah yang tak kunjung henti-hentinya di negeri ini dan memprotes sikap pemerintah yang terlalu lamban dalam mengulurkan tangannya.

Berbagai macam puisi yang di bawakan malam itu, baik berbentuk protes kepada para penguasa dan penjahat hutan. Ada juga yang membawakan puisi yang bertajukkan cinta, tentunya cinta dengan alam dan sesama manusia.

Suasana Lokasi Malam Puisi Jambi
Selain untuk mengungkapkan kegemaran dalam bersajak, berpuisi, dan menyuarakan isi hati dengan kalimat-kalimat indah. Malam puisi juga bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengungkapkan segala rasa, seperti kerinduan dan juga rasa keresahan seseorang. Yang terus bergerak dan menghibur, juga memotivasi orang-orang sekitar untuk melakukan hal-hal yang positif terhadap sesama ciptaan Tuhan.

Sebenarnya membaca puisi itu gak harus punya skill khusus, karena semua orang pasti bisa membaca puisi asalkan ada kemauan untuk mencobanya.

Malam puisi juga seakan menjadi tolak ukur, seberapa besar antusias masyarakat sekitar terhadap seni di dalam puisi itu sendiri. Lebih khususnya generasi muda, yang hampir lupa dengan indahnya membaca puisi beberapa tahun terakhir.
So, sudah kamu membacakan puisimu? Bersuaralah..

Selamat Ulang Tahun Malam Puisi, semoga puisi tak sekedar menjadi penghias kesepian. Namun puisi juga akan menjadi kehidupan dan media untuk menyuarakan segala rasa, selamat...



12 comments:

  1. Baca puisi ya ... Di kelas sih yang paling 'edan' pas baca puisi ya gue :|
    Btw, jadi pengen lihat kegiatannya hehe

    ReplyDelete
  2. Wihhh Jadi pengen ikut :D

    ReplyDelete
  3. Di Solo baru perdana besok jumat nih.. Ayo main kesini sob haha

    ReplyDelete
  4. Kemarin gue ujian prakteknya suruh bikin trus membaca puisi >< #Curcol
    Puisi emang pas banget tuh melampiaskan isi hati selain musik.. Lanjutkaan :)

    ReplyDelete
  5. Keren, Dan :)

    eh tapi aku nggak tau ada lomba ini. huuu gak ngasih tau :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya gak ngasih tau, ini pun dadakan :)

      Delete
  6. Wih keren. Di Jakarta juga suka ada nih. Tapi belum pernah ikut, masih belum kuat nyali. :))

    ReplyDelete
  7. Keren nih, selalu salut sama orang penikmat puisi :'D

    ReplyDelete
  8. Sayangnya di padang komunitas kyk ini gak ada.. Salut deh buat pemuda dan pemudi jambi yang bikin acara itu.

    ReplyDelete
  9. Waah keren ya kak :D
    banyak juga anggotanya ...

    Salam kenal kakak ^_^

    ReplyDelete
  10. puisinya itu...
    wtf.... just wtf....
    (beri 5 bintang)

    ReplyDelete

Dimohon untuk berkomentar dengan penulisan yang baik dan sopan, agar mudah dipahami dan enak dibaca. Terima kasih :)